Description
Fajar pecah di Kayulandak. Embun di padi jadi pecahan kaca, asap kayu bakar menari bersama aroma lilin malam. Di beranda bambu, Bu Lastri menunduk. Canting di tangannya berbisik, melahirkan garis parang yang tak pernah gemetar.
Dari jendela, Sri mengintip. Gadis 16 tahun itu hafal tiap gerak ibu, tapi tangannya sendiri selalu berkhianat. Garisnya bergetar, malamnya meleber. Kainnya hanya jadi kuburan noda.
“Sri, latihan belum kelar juga?” Sari melambai dari halaman, batiknya rapi. Rini terkekeh, “Anak pembatik kok takut canting.”
Pipi Sri panas. Di Kayulandak, perempuan tak bisa batik artinya belum dewasa. Sri, siswi SMK berambut sepunggung, merasa asing di rumahnya sendiri.





Reviews
There are no reviews yet.